Rabu, 11 September 2019, Muhamad Choirudin, S.H.I. (Hakim Pengadilan Agama Gunungsitoli) mewakili Pimpinan Pengadilan Agama Gunungsitoli Memenuhi Undangan dalam rangka acara Hari Bhakti Radio Ke-74 tahun di Gedung Multi Guna RRI Gunungsitoli di jalan Iraonogeba, Desa Iraonogeba Kota Gunungsitoli.

Acara Hari Bhakti Radio yang ke-74 tahun tersebut turut dihadiri oleh beberapa Kepala Daerah atau yang mewakili yang ada di Kepulauan Nias dan beberapa pimpinan Instansi Pemerintah dan BUMN/BUMD yang ada di Kepulauan Nias serta undangan lainnya.

Kepala Stasiun LPP RRI Gunungsitoli dalam sambutannya menyampaikan bahwa dalam rangka memperingati Hari Radio Ke 74 tahun Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) mengambil tema “Untuk Indonesia Lebih Bertoleransi” dengan tujuan agar masyarakat Indonesia tetap bersatu dan tidak terpecah belah. Indonesia merupakan negara dengan beragam suku, etnis, budaya, dan agama. Keberagaman ini menuntut adanya toleransi tinggi antara kelompok-kelompok masyarakat.

Kemudian acara tersebut di lanjutkan dengan prosesi penyulutan obor Tri Prasetya dan sekaligus pemberian nama auditorium serbaguna RRI Gunungsitoli yakni auditorium “Drs. Fauduzisokhi Telaumbanua”. Nama tersebut diberi oleh RRI Gunungsitoli sebagai tanda terimakasih pihak RRI Gunungsitoli kepada Bapak  Drs. Fauduzisokhi Telaumbanua yang dimana beliau merupakan pemilik tanah yang telah menghibahkan tanahnya kepada pihak RRI Gunungsitoli untuk dibangun gedung RRI Gunungsitoli seperti sekarang ini. Maka jasa beliau inilah yang ingin selalu dikenang oleh RRI Gunungsitoli, sehingga para angkasawan/angkasawati RRI Gunungsitoli tetap ingat jasa dari sosok tersebut.

Setelah acara tersebut berakhir, Muhamad Choirudin, S.H.I. foto bersama dan bercengkrama dengan Kepala LPP RRI Gunungsitoli. Keduanya saling memberikan masukan dan pesan dalam hal memberikan pelayanan kepada masyarakat Nias pada umumnya. Sebelum berpamitan bapak Muhamad Choirudin, S.H.I. mengucapkan selamat Hari Bhakti Radio Ke-74 tahun, semoga tetap jaya, sekali di udara tetap di udara.

By: Jurdilaga Gusti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *